Titik Nadir

Penyair Amatir

Bukan Sinetron

Administrator@DJ | Selasa, 30 Januari 2018 - 08:06:26 WIB | dibaca: 578 pembaca



Di dunia sinetron, semua bisa terjadi. Apakah itu kemudahan laiknya di surga. Ataukah kemalangan yang berlarat-larat.

Sepasang kekasih membawa bungkusan plastik. Keduanya menuju areal makam yang dekat dengan persawahan. Seorang lelaki tua yang kebetulan melintas lantas curiga. Menanyakan apakah gerangan isi bungkusan itu. 

Sepasang kekasih itu tentu terkejut. Terjadilah perdebatan. Sepasang kekasih yang panik itu tidak mau menuruti perintah lelaki tua. Sebab didorong rasa curiga, lelaki tua memaksa dengan merebut bungkusan plastik tersebut. 

Lelaki tua kagetnya bukan main. Emosinya sampai diubun-ubun. Melihat sepasang kekasih itu kabur, ia minta bantuan dengan berteriak-teriak. 
***

Tersiarlah kabar itu. Sepasang kekasih membuang bayi di areal makam. Pelaku berhasil dibekuk. Blablabla. Begitu berita yang beredar. Online maupun offline. 

Saya lalu membaca lanjutan kisah ini di warung kopi. Sebuah koran nasional ambil bagian menyoroti. Sepasang kekasih itu, masih simpang siur siapa yang punya inisiatif, sepakat menggugurkan kandungan yang berusia enam bulan. 

Belum resmi menikah, namun sudah hamil, memang bukan berita bagus. Lebih tepatnya horor. Alasan tentu macam-macam. Dilema itu yang dihadapi sepasang kekasih itu. Di sebuah penginapan kecil, si cewek minum obat peluruh hingga enam kali. Di kamar mandi, si jabang bayi menyapa dunia dengan kondisi mengenaskan. Segera dibungkus plastik. Langkah terakhir: dikuburkan. 
***

Kisah sepasang kekasih itu bukan berasal dari dunia sinetron. Bukan fiksi. Saya teringat pernyataan guru saya, bahwa terkadang realitas lebih kejam daripada fiksi. 

Pelajaran apakah yang bisa kita ambil sayang?

Dengarkan suara hatimu. Pelajarannya jelas terbaca di sana. Apakah kamu pura-pura tak mendengarkan? 
---
[penyair amateur] 
Menunggui kunjungan hujan
190118





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)