Opini Civitas

Nur Putri Inayati Lestari

Matematika dan Pendidikan (1)

Administrator@DJ | Selasa, 30 Januari 2018 - 08:02:01 WIB | dibaca: 153 pembaca



“Matematika itu berguna” sepertinya menjadi kalimat bermajas ironi bagi sebagian besar siswa di negeri ini. Bagaimana tidak, dalam satu kelas saja, siswa yang gemar Matematika tidak akan lebih dari 25%. Bahkan, beberapa di antara mereka menyatakan benci terhadap mata pelajaran hitung-menghitung gini. Seringkali, di tengah pembelajaran matematika, ada saja pertanyaan-pertanyaan unik yang tiba-tiba muncul, seperti “Mengapa kita harus belajar logaritma? Apa gunanya untuk masa depan saya yang bercita-cita ingin jadi pengusaha?”, “Apa gunanya kita belajar Integral?”, dan sebagainya.

Sebagai muslim, kita seharusnya berbangga karena banyak cendekiawan muslim yang memberi sumbangsih besar dalam ilmu Matematika. Matematika yang kita nikmati saat ini tidak lepas dari buah pikiran ilmuwan-ilmuwan muslim pada abad-abad yang lalu. Seperti Al-Khawarizmi yang dijuluki Bapak Matematika, seorang penemu angka “nol”, penggagas algoritma, dan perintis konsep aljabar, Al-Buzjani, yang memberikan kontribusi teori-teori geomeri dan trigonometri, Al-Biruni, yang berjasa dalam aritmatika dan bilangan irasional, dan masih banyak lagi.

Matematika berasal dari bahasa Yunani, mathematika, yang artinya ilmu pengetahuan. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan “wiskunde” yang berarti ilmu tentang belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, matematika diartikan sebagai ilmu tentang bilangan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya yang mencakup segala bentuk prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan. Jadi, matematika bukan hanya sekadar aktivitas hitung-menghitung tanpa makna, matematika juga mengajarkan proses berpikir serta pemecahan masalah dengan prosedur-prosedur yang sistematis.

Matematika dan pemecahan masalah adalah dua hal yang saling terkait. Pemecahan masalah (problem solving) adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi milenial saat ini. Seseorang dapat dikatakan berhasil dalam hidupnya ketika dia sanggup memecahkan masalah yang ada di hidupnya. Kemampuan inilah yang seharusnya diajarkan dalam setiap pembalajaran demi mempersiapkan generasi mandiri yang siap dan cakap dalam mengatasi masalah, problem solver. National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000) merekomendasikan agar semua siswa belajar matematika hingga jenjang SMA. Alih-alih persoalan hitungan rumit, pembelajaran matematika di sekolah bertujuan untuk menciptakan manusia yang berjiwa kreatif, kritis, dan mampu memecahkan masalah di kehidupannya menggunakan pola pikir yang baik.

Hal tersebut diamini oleh kurikulum terbaru di Indonesia yang berlaku saat ini. Dalam kurikulum terbaru, pembelajaran matematika dibuat menjadi lebih bermakna. Benda abstrak tersebut dibuat lebih sederhana dengan disertai contoh-contoh aplikasi konsep matematika dalam dunia nyata yang ternyata juga terintegrasi dengan disiplin ilmu lain seperti fisika, kimia, biologi, ekonomi, geografi, bahkan agama. Selain menjadi lebih bermakna, pembelajaran matematika lebih sering dikaitkan dengan masalah matematika yang dibungkus dalam bentuk soal cerita yang dapat diselesaikan dengan konsep matematika tertentu. Tak jarang, siswa juga dilatih untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak rutin, dengan kreativitas mereka masing-masing. Tentu saja, hal tersebut dapat melatih kecakapan siswa untuk memikirkan cara-cara terbaik dalam memecahkannya.

Selain pemecahan masalah, terdapat aspek-aspek dalam matematika yang dapat membentuk kepribadian siswa. R. Soedjadi dalam tulisannya yang berjudul Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembudayaan Penalaran memaparkan terdapat aspek-aspek dalam matematika yang memiliki nilai didik, di antaranya kesepakatan, ketaat-asasan, deduksi, dan semesta.





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)